Akulah Korbannya
“ Dup.. dup.. dup..” suara kaki
kecilku yang berjalan menyusuri koridor sekolah pada malam itu. Perlahan, mata bulat
kecil ini terbelalak dengan lampu di ujung koridor yang redup, menyala, redup,
menyala yang berulang- ulang, hingga akhirnya mati ketika hanya 4 langkah lagi
aku tepat berada di ujung koridor. Kupandangi sekitar scalar lampu itu. Tetapi, tak seorangpun ku temui di sana. Akupun
mengabaikannya. Mungkin lampunya sedang mengalami kerusakan, pikirku.
Keesokan harinya, aku beraktivitas
seperti biasanya hingga malampun tiba. Setelah belajar dan mengerjakan beberapa
tugas untuk pelajaran besok, ku kemas semua buku yang berserakan di atas meja
dan ku masukkannya ke dalam tas mungil berwarna merah jambu. Tak lama setelah
itu, akupun tertidur dengan nyenyak. Tiba – tiba aku memimpikan sesuatu hal
yang tak pernah ku inginkan selama ini. Aku bertemu dengan sesosok wanita,
wanita itu berjalan tepat di depanku dengan gaun putih yang menutupi seluruh
kakinya menyusuri koridor sekolah yang jarang ku lewati karena koridor itu tak sejalan
dengan kelasku. Aku yang begitu terkejut hanya terpaku di belakang sosok yang
terus berjalan dan semakin menjauh dariku itu. Tiba-tiba, tepat di bawah lampu
di ujung koridor sekolah , sosok berbaju putih itu berhenti lalu berbalik
kepadaku dengan wajahnya yang cantik walaupun terlihat begitu beku. Sosok itu berkata “ Hati – hati dengan guru itu. Jangan
sampai kau biarkan temanmu lengah dan terbuai akan kata – katanya.”Keringat
mengucur deras di keningku. Akupun menjerit dengan sekencang – kencangnya hingga
aku terbangun dari tidurku. Lalu, akupun segera bersiap-siap pergi ke sekolah.
* *
* * * *
Pagi
ini aku sangat bersemangat, ku sapa teman – temanku yang terlihat begitu heran
dengan tingkahku saat itu. Begitu sampai di kelas teman sebangku ku yang
memang menjadi sahabat dari Sekolah
Dasar hingga saat ini aku duduk di bangku SMA, bertanya dengan penuh penasaran,
Rahma namanya.
“ Rin..
kesambet apa kamu ?? dapet hadiah nomplok ya?? Bagi donk??”
“ Ah..
tahu aja kamu.. aku baru dapet hadiah yang selama ini ku inginkan, itu loh Ma..
masak gak tau sihh?? Apa pura – pura gak tau ??”
“ Apa sihh ??”
“ Ahaha.. kamu itu percaya aja sih..
hadiah nomplok apa lagi?? Tugas nih.. hadiahnya, mau??”
“ Nggak deh.. makasih..”
Pelajaran berlangsung seperti
biasa, tapi kali ini lebih seru dari biasanya karena hari ini adalah hari ulang
tahun wali kelasku, Pak Tino. Pak Tino adalah salah satu guru favorit di SMAku.
Dengan usianya yang masih begitu muda, beliau sudah sangat bisa di katakan berhasil. Tapi rasanya
ada sesuatu yang aneh melintas di pikiranku. Sikapnya, sikapnya sangat aneh
terutama dengan salah seorang teman perempuan sekelasku. Akhir – akhir ini
perhatian yang lebih sangat ku rasakan terutama ketika ulangan, bukan aku
melainkan Sila. Tak henti – hentinya beliau berada di dekat Sila dan
membantunya mengerjakan soal - soal ulangan itu. Aneh?? Sangat aneh.. Sila
bukanlah siswi yang paling cantik di kelasku, dia malah cenderung menyendiri
dari pada bermain dan bercanda tawa bersama teman – teman. Dia juga tak begitu
pintar. Tapi, mengapa nilainya akhir – akhir ini bagus?? Dan mengapa pak Tino
terlihat begitu perhatian terhadapnya?? Sudahlah, mungkin hanya pikiranku yang
sedang tak menentu saja hingga memikirkan kecurigaan seperti ini.
“Selamat panjang umur dan
bahagia..” lirik terakhir lagu selamat ulang tahun itu terasa begitu sumbang di
telingaku.
Seberkas cahaya putih melintas di
sampingku. Bulu kudukku berdiri. Segera aku keluar dari kelas, dan mencari
sesuatu yang mungkin tak begitu asing untukku. Setelah ku tengok ke kanan dan
kiri lorong kelasku, tak kutemui apapun di sana. Akupun tak putus asa, aku
berjalan begitu saja hingga menuruni tangga di ujung lorong. Sejenak aku
memikirkan koridor dalam mimpiku itu. Entah mengapa kakiku seakan-akan tak mau
berhenti hingga akhirnya aku melihat koridor yang ada di mimpiku. Sesosok
perempuan yang ada dalam mimpiku sudah berdiri di sana, seakan – akan menunggu
kedatanganku. Gaun putihnya yang panjang menutupi kakinya. Dengan terbata aku
bertanya pada sosok itu.
“ Kamu siapa ??”
“ Kamu tak perlu tahu siapa aku
sebenarnya. Aku hanya ingin menyampaikan maksudku selama ini, hindarkan temanmu
dari guru itu jika kau memang tak ingin melihatnya sepertiku.”
Angin berhembus begitu
kencangnya, mengiringi kepergian sosok itu. Kubalikkan badanku, dan segera aku
menuju ke kelas yang sudah begitu ramai dengan acara ulang tahun itu. Ketika
aku akan kembali ke kelas, tepat di samping tangga, aku melihat Sila dengan pak
Tino yang sedang membicarakan sesuatu yang terlihat begitu penting. Ku pasang
telingaku agar dapat mendengar apa yang mereka bicarakan dengan jelas.
“ Maaf pak saya tidak bisa, apa
bapak tidak bisa membimbing saya sore saja?? Kenapa harus malam? Apalagi kan
besok malam jum’at?” jawab Sila dengan
wajahnya yang begitu memelas.
“ Sila.. kalau kamu memang tidak
menginginkan saya marah, datang saja. Tapi,
kalau itu memang kemauanmu.. terserah” wajah pak Tino seketika berubah menjadi
merah padam.
Aku mendengar suara kaki pak Tino
yang semakin mendekat, untungnya aku segera berlari menyelamatkan diri. Setelah
ku lihat dari jauh Pak Tino memasuki ruang kelas lainnya, aku baru berani masuk
kelas lagi. Rahma yang melihatku datang
dengan terengah – engahpun bertanya dengan wajah yang masih belepotan dengan
kue tart.
“ Habis dari mana aja kamu??”
Aku hanya menjawab pertanyaannya
dengan anggukan pelan. Wajahku masih basah dengan keringat yang mengucur deras
di keningku setelah berlari - lari tadi. Aku hanya duduk melamun memikirkan
pembicaraan yang baru saja ku dengar secara langsung.
“ Tett.. tett.. tett..”
Bel tanda berakhirnya jam belajar
di sekolah serentak membubarkan
lamunanku. Aku bergegas untuk pulang tanpa memperdulikan Rahma yang masih
ngobrol dengan anak – anak lainnya tentang seseorang yang ia kagumi selama ini.
Aku pulang dengan jalan kaki, karena jarak antara sekolah dan rumahku tak
begitu jauh. Ya.. hitung – hitung olahraga untuk mengurangi berat badanku yang
begitu memuaskan.
Sesampainya di rumah aku teringat
akan kata – kata sesosok perempuan tadi dan pembicaraan antara pak Tino yang
mengajak Sila belajar besok malam, padahal besok adalah hari jum’at kliwon yang
di percaya mistis. Aku langsung membuka
laptop dan mencari berbagai data yang berhubungan dengan malam jum’at terutama jum’at
kliwon. Salah satu info yang ku dapatkan adalah penyerahan tumbal yang di
adakan pada hari jum’at kliwon. Betapa terkejutnya aku ketika membaca artikel
itu. Setelah membaca beberapa artikel ku putuskan untuk keluar dari web dan
melanjutkan belajar. Seperti biasa, setelah belajar ku kemas semua buku yang
berserakan di atas meja belajarku. Tak lama setelah itu akupun tertidur dengan
begitu nyenyak karena aktivitas yang aku lakukan hari ini sangat melelahkan.
* * * * * * * * *
Hari ini hanya ada 3 pelajaran
saja, karena setiap jum’at selalu pulang lebih awal. Aku masih duduk termenung
tanpa memperdulikan Rahma yang entah sedang cerita apa saja. Dia berbicara
terus, seperti tak ada titik sama sekali hingga akhirnya aku memutuskan
pembicaraannya.
“ Ma bantu aku ya?” pintaku padanya,
“ Tentu, masalah apa?”
Setelah ku ceritakan semua hal
aneh yang akhir – akhir ini terjadi padaku, akhirnya ia memberikan sebuah
pendapat yang menurutku pantas untuk di lakukan.
* * * * * * *
Malam
pun akhirnya tiba dengan kesunyian yang begitu melekat di kalbu. Aku yang masih
menanti kedatangan Rahma hanya duduk terpaku di teras sambil mengamati keadaan
rumah Sila yang tak jauh dari rumahku. Tak lama setelah Rahma tiba, Pak Tino datang
dengan memakai pakaian hitam – hitam seakan – akan berseragam dengan kesunyian
malam. Aku semakin curiga ketika pak Tino keluar dari rumah Sila dan masuk ke
mobil bersama Sila. Aku tak berpikir panjang, segera kami mengikuti mobil sedan
itu dari belakang. Beberapa menit kemudian mobil pak Tino berhenti tepat di
halaman belakang sekolah.
Gelapnya malam terasa begitu kuat di sekolah favorit itu, langkah
demi langkah kaki ku ayunkan dengan
perasaan yang sangat tak menentu. Ku bulatkan tekad agar semuanya bisa berjalan
seperti apa yang ku harapkan. Tangan dingin masih menggenggam lenganku erat –
erat, di belakang kami untungnya ada ayah Rahma,ia adalah seorang ustad. Mata kecilku melirik kesana –
kemari, tiba – tiba seberkas cahaya
kuning alami dari nyala api terlihat samar – samar di ujung koridor. Aku memang
sudah memperkirakan hal itu akan digunakan pak Tino untuk menerangi tempatnya
bersama Sila, karena listriknya tiba – tiba mati setelah kami memasuki sekolah itu agak jauh.
Tepat
di samping koridor sekolah dalam mimpiku itu ada seberkas sinar kecil yang
menyala. Ku pasang telingaku agar bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Ketika aku menoleh ke belakang, ternyata hanya ada aku dan Rahma saja sedangkan
ayahnya yang dari tadi berjalan di belakang kami hilang entah kemana.
Perasaanku makin bercampur aduk. Pelan – pelan ku tenangkan diriku. Dengan keberanian yang tak cukup kuat ku beranikan
diri untuk menengok ke tempat kecil di samping koridor itu. Dan tiba – tiba aku
mendengar suara yang sangat mengecilkan nyaliku..
“ Kau bawa 2 orang teman kesini ??”
“ Tidak
pak, hanya saya saja..”
Hanya
kalimat itu yang aku dengar. Aku tak bisa melihat tempat itu lagi, semuanya
berubah menjadi gelap, hanya ada koridor besar di sekitarku, tidak ada yang lain.
Aku berlari kesana kemari tapi ujung – ujungnya kembali ke koridor itu lagi.
Sungguh ini benar – benar menakutkan. Rahma yang ada di sampingku tiba - tiba
saja menghilang. Aku tak pernah putus asa dengan semua ini, aku masih mencari
jalan keluar tapi hanya koridor sekolah itu yang akhirnya ku temui lagi.
Senandung lagu kecil menghentikan langkah kakiku, sesosok gadis menyapaku
dengan lembut, dan gadis itu tak lain adalah gadis yang pernah muncul dalam
mimpiku.
“ Ririn..
akankah kau yang nantinya bersamaku?? “
Mendadak aku menjerit, sebuah
pukulan mendarat di pundakku. Setelah aku sadar, aku tak memikirkan apapun
kecuali keselamatanku sendiri. Aku bersama Rahma tiba – tiba sudah berada di
samping Sila yang terlentang di sebuah meja kecil yang terbuat dari bambu
dengan keadaan basah. Semua tubuhnya basah, dari ujung kepala hingga kakinya.
Aroma bunga tujuh rupa begitu menusuk. Aku melihat dengan kedua mataku sendiri
bagaimana Pak Tino menyiramakan air dalam sebuah gentong yang penuh dengan
bunga tujuh rupa itu. Aku sendiri tak bisa melakukan apa – apa karena tangan
dan kaki ku di ikat ke sebuah pohon besar di samping meja itu, begitu juga
dengan Rahma.
Mantra demi mantra di ucapkannya.
Aku tak tahu apa maksud dari perkataannya itu. Aku tak menyadari bahwa sedikit
demi sedikit aku terbawa dengan mantranya. Aku merasa tertidur dalam sebuah
ruangan besar bersama Sila, Rahma dan
juga seorang gadis dalam mimpiku itu. Ruangan itu terasa sejuk sekali. Hingga
pagipun datang dengan sinar hangat sang surya, yang tak bisa lagi ku rasakan. Pengorbanan
yang selama ini ku lakukan untuk menyelamatkan salah seorang temanku ternyata
sia – sia bahkan akupun ikut menjadi korban dari pertumbalan guru itu. Entah
sampai kapan kebenaran akan terbongkar.



0 komentar:
Posting Komentar