Mengenai Saya

Foto saya
Hari ini adalah satu-satunya yang kita punyai.Hiduplah pada saat sekarang,bukan di masa lampau.Biarkan masa lampau berlalu.Peluklah kehidupan.Tidak hanya pohon-pohon,walaupun itu juga hal penting.Peluklah kehidupan seerat-eratnya.Jangan pernah membiarkan satu peluangpun untuk memeluk lewat dengan begitu saja tanpa di manfaatkan.

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

About

Blogger templates

Berita terkini

menarik dan terpercaya

Minggu, 02 Desember 2012



Akulah Korbannya

“ Dup.. dup.. dup..” suara kaki kecilku yang berjalan menyusuri koridor sekolah pada malam itu. Perlahan, mata bulat kecil ini terbelalak dengan lampu di ujung koridor yang redup, menyala, redup, menyala yang berulang- ulang, hingga akhirnya mati ketika hanya 4 langkah lagi aku tepat berada di ujung koridor. Kupandangi sekitar scalar lampu itu. Tetapi, tak seorangpun ku temui di sana. Akupun mengabaikannya. Mungkin lampunya sedang mengalami kerusakan, pikirku.
Keesokan harinya, aku beraktivitas seperti biasanya hingga malampun tiba. Setelah belajar dan mengerjakan beberapa tugas untuk pelajaran besok, ku kemas semua buku yang berserakan di atas meja dan ku masukkannya ke dalam tas mungil berwarna merah jambu. Tak lama setelah itu, akupun tertidur dengan nyenyak. Tiba – tiba aku memimpikan sesuatu hal yang tak pernah ku inginkan selama ini. Aku bertemu dengan sesosok wanita, wanita itu berjalan tepat di depanku dengan gaun putih yang menutupi seluruh kakinya menyusuri koridor sekolah yang jarang ku lewati karena koridor itu tak sejalan dengan kelasku. Aku yang begitu terkejut hanya terpaku di belakang sosok yang terus berjalan dan semakin menjauh dariku itu. Tiba-tiba, tepat di bawah lampu di ujung koridor sekolah , sosok berbaju putih itu berhenti lalu berbalik kepadaku dengan wajahnya yang cantik walaupun terlihat begitu beku. Sosok itu  berkata “ Hati – hati dengan guru itu. Jangan sampai kau biarkan temanmu lengah dan terbuai akan kata – katanya.”Keringat mengucur deras di keningku. Akupun menjerit dengan sekencang – kencangnya hingga aku terbangun dari tidurku. Lalu, akupun segera bersiap-siap pergi ke sekolah.
*        *        *          *           *          *
                Pagi ini aku sangat bersemangat, ku sapa teman – temanku yang terlihat begitu heran dengan tingkahku saat itu. Begitu sampai di kelas teman sebangku ku yang memang  menjadi sahabat dari Sekolah Dasar hingga saat ini aku duduk di bangku SMA, bertanya dengan penuh penasaran, Rahma namanya.
                “ Rin.. kesambet apa kamu ?? dapet hadiah nomplok ya?? Bagi donk??”
                “ Ah.. tahu aja kamu.. aku baru dapet hadiah yang selama ini ku inginkan, itu loh Ma.. masak gak tau sihh?? Apa pura – pura gak tau ??”
“ Apa sihh ??”
“ Ahaha.. kamu itu percaya aja sih.. hadiah nomplok apa lagi?? Tugas nih.. hadiahnya, mau??”
“ Nggak deh.. makasih..”
Pelajaran berlangsung seperti biasa, tapi kali ini lebih seru dari biasanya karena hari ini adalah hari ulang tahun wali kelasku, Pak Tino. Pak Tino adalah salah satu guru favorit di SMAku. Dengan usianya yang masih begitu muda, beliau sudah  sangat bisa di katakan berhasil. Tapi rasanya ada sesuatu yang aneh melintas di pikiranku. Sikapnya, sikapnya sangat aneh terutama dengan salah seorang teman perempuan sekelasku. Akhir – akhir ini perhatian yang lebih sangat ku rasakan terutama ketika ulangan, bukan aku melainkan Sila. Tak henti – hentinya beliau berada di dekat Sila dan membantunya mengerjakan soal - soal ulangan itu. Aneh?? Sangat aneh.. Sila bukanlah siswi yang paling cantik di kelasku, dia malah cenderung menyendiri dari pada bermain dan bercanda tawa bersama teman – teman. Dia juga tak begitu pintar. Tapi, mengapa nilainya akhir – akhir ini bagus?? Dan mengapa pak Tino terlihat begitu perhatian terhadapnya?? Sudahlah, mungkin hanya pikiranku yang sedang tak menentu saja hingga memikirkan kecurigaan seperti ini.
“Selamat panjang umur dan bahagia..” lirik terakhir lagu selamat ulang tahun itu terasa begitu sumbang di telingaku.
Seberkas cahaya putih melintas di sampingku. Bulu kudukku berdiri. Segera aku keluar dari kelas, dan mencari sesuatu yang mungkin tak begitu asing untukku. Setelah ku tengok ke kanan dan kiri lorong kelasku, tak kutemui apapun di sana. Akupun tak putus asa, aku berjalan begitu saja hingga menuruni tangga di ujung lorong. Sejenak aku memikirkan koridor dalam mimpiku itu. Entah mengapa kakiku seakan-akan tak mau berhenti hingga akhirnya aku melihat koridor yang ada di mimpiku. Sesosok perempuan yang ada dalam mimpiku sudah berdiri di sana, seakan – akan menunggu kedatanganku. Gaun putihnya yang panjang menutupi kakinya. Dengan terbata aku bertanya pada sosok itu.
“ Kamu siapa ??”
“ Kamu tak perlu tahu siapa aku sebenarnya. Aku hanya ingin menyampaikan maksudku selama ini, hindarkan temanmu dari guru itu jika kau memang tak ingin melihatnya sepertiku.”
Angin berhembus begitu kencangnya, mengiringi kepergian sosok itu. Kubalikkan badanku, dan segera aku menuju ke kelas yang sudah begitu ramai dengan acara ulang tahun itu. Ketika aku akan kembali ke kelas, tepat di samping tangga, aku melihat Sila dengan pak Tino yang sedang membicarakan sesuatu yang terlihat begitu penting. Ku pasang telingaku agar dapat mendengar apa yang mereka bicarakan dengan jelas.
“ Maaf pak saya tidak bisa, apa bapak tidak bisa membimbing saya sore saja?? Kenapa harus malam? Apalagi kan besok malam jum’at?”  jawab Sila dengan wajahnya yang begitu memelas.
“ Sila.. kalau kamu memang tidak menginginkan saya marah, datang saja.  Tapi, kalau itu memang kemauanmu.. terserah” wajah pak Tino seketika berubah menjadi merah padam.
Aku mendengar suara kaki pak Tino yang semakin mendekat, untungnya aku segera berlari menyelamatkan diri. Setelah ku lihat dari jauh Pak Tino memasuki ruang kelas lainnya, aku baru berani masuk kelas lagi. Rahma  yang melihatku datang dengan terengah – engahpun bertanya dengan wajah yang masih belepotan dengan kue tart.
“ Habis dari mana aja kamu??”
Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan pelan. Wajahku masih basah dengan keringat yang mengucur deras di keningku setelah berlari - lari tadi. Aku hanya duduk melamun memikirkan pembicaraan yang baru saja ku dengar secara langsung.
“ Tett.. tett.. tett..”
Bel tanda berakhirnya jam belajar di sekolah serentak  membubarkan lamunanku. Aku bergegas untuk pulang tanpa memperdulikan Rahma yang masih ngobrol dengan anak – anak lainnya tentang seseorang yang ia kagumi selama ini. Aku pulang dengan jalan kaki, karena jarak antara sekolah dan rumahku tak begitu jauh. Ya.. hitung – hitung olahraga untuk mengurangi berat badanku yang begitu memuaskan.
Sesampainya di rumah aku teringat akan kata – kata sesosok perempuan tadi dan pembicaraan antara pak Tino yang mengajak Sila belajar besok malam, padahal besok adalah hari jum’at kliwon yang di percaya  mistis. Aku langsung membuka laptop dan mencari berbagai data yang berhubungan dengan malam jum’at terutama jum’at kliwon. Salah satu info yang ku dapatkan adalah penyerahan tumbal yang di adakan pada hari jum’at kliwon. Betapa terkejutnya aku ketika membaca artikel itu. Setelah membaca beberapa artikel ku putuskan untuk keluar dari web dan melanjutkan belajar. Seperti biasa, setelah belajar ku kemas semua buku yang berserakan di atas meja belajarku. Tak lama setelah itu akupun tertidur dengan begitu nyenyak karena aktivitas yang aku lakukan hari ini sangat melelahkan.
*             *             *             *             *             *              *             *             *
                Hari ini hanya ada 3 pelajaran saja, karena setiap jum’at selalu pulang lebih awal. Aku masih duduk termenung tanpa memperdulikan Rahma yang entah sedang cerita apa saja. Dia berbicara terus, seperti tak ada titik sama sekali hingga akhirnya aku memutuskan pembicaraannya.
 “ Ma bantu aku ya?” pintaku padanya,
“ Tentu, masalah apa?”
Setelah ku ceritakan semua hal aneh yang akhir – akhir ini terjadi padaku, akhirnya ia memberikan sebuah pendapat yang menurutku pantas untuk di lakukan.
*             *             *             *             *             *             *
                Malam pun akhirnya tiba dengan kesunyian yang begitu melekat di kalbu. Aku yang masih menanti kedatangan Rahma hanya duduk terpaku di teras sambil mengamati keadaan rumah Sila yang tak jauh dari rumahku. Tak lama setelah Rahma tiba, Pak Tino datang dengan memakai pakaian hitam – hitam seakan – akan berseragam dengan kesunyian malam. Aku semakin curiga ketika pak Tino keluar dari rumah Sila dan masuk ke mobil bersama Sila. Aku tak berpikir panjang, segera kami mengikuti mobil sedan itu dari belakang. Beberapa menit kemudian mobil pak Tino berhenti tepat di halaman belakang sekolah.
Gelapnya malam terasa  begitu kuat di sekolah favorit itu, langkah demi langkah  kaki ku ayunkan dengan perasaan yang sangat tak menentu. Ku bulatkan tekad agar semuanya bisa berjalan seperti apa yang ku harapkan. Tangan dingin masih menggenggam lenganku erat – erat, di belakang kami untungnya ada ayah Rahma,ia adalah  seorang ustad. Mata kecilku melirik kesana – kemari, tiba – tiba seberkas  cahaya kuning alami dari nyala api terlihat samar – samar di ujung koridor. Aku memang sudah memperkirakan hal itu akan digunakan pak Tino untuk menerangi tempatnya bersama Sila, karena listriknya tiba – tiba mati setelah kami  memasuki sekolah itu agak jauh.
                Tepat di samping koridor sekolah dalam mimpiku itu ada seberkas sinar kecil yang menyala. Ku pasang telingaku agar bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Ketika aku menoleh ke belakang, ternyata hanya ada aku dan Rahma saja sedangkan ayahnya yang dari tadi berjalan di belakang kami hilang entah kemana. Perasaanku makin bercampur aduk. Pelan – pelan ku tenangkan diriku. Dengan  keberanian yang tak cukup kuat ku beranikan diri untuk menengok ke tempat kecil di samping koridor itu. Dan tiba – tiba aku mendengar suara yang sangat mengecilkan nyaliku..
                  Kau bawa 2 orang teman kesini ??”
                “ Tidak pak, hanya saya saja..”
                Hanya kalimat itu yang aku dengar. Aku tak bisa melihat tempat itu lagi, semuanya berubah menjadi gelap, hanya ada koridor besar di sekitarku, tidak ada yang lain. Aku berlari kesana kemari tapi ujung – ujungnya kembali ke koridor itu lagi. Sungguh ini benar – benar menakutkan. Rahma yang ada di sampingku tiba - tiba saja menghilang. Aku tak pernah putus asa dengan semua ini, aku masih mencari jalan keluar tapi hanya koridor sekolah itu yang akhirnya ku temui lagi. Senandung lagu kecil menghentikan langkah kakiku, sesosok gadis menyapaku dengan lembut, dan gadis itu tak lain adalah gadis yang pernah muncul dalam mimpiku.
                “ Ririn.. akankah kau yang nantinya bersamaku?? “
Mendadak aku menjerit, sebuah pukulan mendarat di pundakku. Setelah aku sadar, aku tak memikirkan apapun kecuali keselamatanku sendiri. Aku bersama Rahma tiba – tiba sudah berada di samping Sila yang terlentang di sebuah meja kecil yang terbuat dari bambu dengan keadaan basah. Semua tubuhnya basah, dari ujung kepala hingga kakinya. Aroma bunga tujuh rupa begitu menusuk. Aku melihat dengan kedua mataku sendiri bagaimana Pak Tino menyiramakan air dalam sebuah gentong yang penuh dengan bunga tujuh rupa itu. Aku sendiri tak bisa melakukan apa – apa karena tangan dan kaki ku di ikat ke sebuah pohon besar di samping meja itu, begitu juga dengan Rahma.
Mantra demi mantra di ucapkannya. Aku tak tahu apa maksud dari perkataannya itu. Aku tak menyadari bahwa sedikit demi sedikit aku terbawa dengan mantranya. Aku merasa tertidur dalam sebuah ruangan besar  bersama Sila, Rahma dan juga seorang gadis dalam mimpiku itu. Ruangan itu terasa sejuk sekali. Hingga pagipun datang dengan sinar hangat sang surya, yang tak bisa lagi ku rasakan. Pengorbanan yang selama ini ku lakukan untuk menyelamatkan salah seorang temanku ternyata sia – sia bahkan akupun ikut menjadi korban dari pertumbalan guru itu. Entah sampai kapan kebenaran akan terbongkar.

separador

0 komentar:

Posting Komentar

Followers